SONG

Selasa, 07 Juni 2016

JURNAL PENDAPATAN NASIONAL EKONOMI MAKRO ISLAM



JUDUL     : JURNAL PENDAPATAN NASIONAL EKONOMI MAKRO ISLAM
PENULIS : AHMAD ADABY A.R

Peranan Konsumsi dalam Perekonomian Indonesia dan
Kaitannya dengan Ekonomi Islam
A. Perkembangan Konsumsi Masyarakat Indonesia
Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai sumber pertumbuhanmenurut teori ekonomi makro terdiri dari Konsumsi (C), Investasi (I). Pengeluaran Pemerintah (G) dan Net Export (X-M), dimana X adalah ekspor dan M adalah impor. Hubungan tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
PDB = C + I + G + (X-M)            (1)
Berdasarkan rumusan (1) seperti tersebut di atas, maka PDB Indonesia pada tahun 2010 (Tabel 1) memperlihatkan bahwa dari jumlah PDB sebesar Rp.2.310,6 Triliyun, maka sebesar 56,56 persen digunakan untuk pengeluaran konsumsi (C), 24,28 persen, pengeluaran investasi (I), 10,40 persen adalah ekspor netto (X-M). Jika dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang juga merupakan negara Islam terlihat bahwa dari PDB sebesar 521,7 Miliar Ringgit, maka persentase pengeluaran penduduk (C) lebih kecil dari Indonesia yaitu 54,86 persen, Investasi swasta (I) adalah 14,99 persen, pengeluaran pemerintah (G) adalah 20,60 prsen, dan ekspor netto (X-M) adalah 9,55 persen
Jadi dengan besarnya pengeluaran pemerintah (G) di Malaysia dibandingkan dengan Indonesia maka pembangunan infrastruktur di Malaysia lebih baik dibandingkan dengan Indonesia, sehingga menyebabkan lebih baiknya perekonomian masyarakat di Malaysia. Hal ini terbukti dengan banyaknya tenaga kerja Indonesia bekerja di Malaysia.
Pengeluaran konsumsi di Indonesia dapat dikelompokkan pada pengeluaran untuk makanan(F) dan pengeluaran untuk non-makanan (NF). Pengeluaran konsumsi bahan makanan per orang perbulan di Indonesa pada tahun 2008 adalah sebesar Rp.275.227,7. Pengeluaran untuk konsumsi tersebut dapat dipisahkan antara penduduk kota dan penduduk desa. Total pengeluaran konsumsi per kapita per bulan di kota adalah Rp.149 658,8 dimana Rp88.662,8 (59,24 %) digunakan untuk makanan dan Rp.60.996,0 (40,76 %) untuk non makanan. Dari konsumsi makanan tersebut Rp.32499,3 (36,65 %) digunakan untuk beras dan Rp.9.736,0 (10,98 %) digunakan untuk belanja rokok.
Di desa total konsumsi perkapita per bulan lebih kecil dari di kota yaitu Rp.125.565 dimana tapi porsi untuk makanan lebih besar yaitu sebesar Rp88.919 (71,96 %) untuk makanan dan Rp34.646 (28,04) untuk non-makanan.. Dari total pengeluaran untuk makanan maka Rp.40.914 (46,03 %) untuk beras, dan rokok Rp5.965,8 (6,7 %). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 2.
Dari data seperti yang dikemukakan terlihat bahwa sebahagian besat dari total konsumsi dihabiskan untuk makanan yang didominasi oleh beras. Rokok yang bukan kebutuhan kalori atau protein juga membutuhkan biaya yang relatif besar yaitu sekitar 30 % dari pengeluaran untuk beras. Kegiatan merokok ini j elas melanggar prinsip dan etika. konsumsi seperti yang dikemukakan oleh Mannan (1997:47-48) dan Muhammad (2004 :168-173).
Besarnya Jumlah Penduduk Miskin Sampai saat ini jumlah penduduk miskin di Indonesia masih cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS: 2009), merumuskan bahwa kemiskinan dipandang sebagai ketidak mampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi konsumsi mereka mencakup kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Untuk mengukur kemiskinan tersebut, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Untuk menetapkan seseorang termasuk miskin atau tidak, BPS menggunakan Garis Kemiskinan (GK). Apabila tingkat pengeluarannya terletak dibawah garis kemiskinan, maka ia termasuk golongan miskin dimana GK = GKM + GKNM.. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2000 kalori per kapita per hari. Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang pendidikan dan kesehatan. Garis kemiskinan secara nasional menurut kota dan desa di Indonesia adalah Rp.195.678,- per bulan. Apabila pengeluaran perkapita dibawah nilai tersebut, maka ia sudah termasuk golongan miskin. Jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia dapat dilihat pada tabel 3.
Penduduk Indonesia kelihatannya belum dapat Penduduk Indonesia kelihatannya belum dapat lepas dari kemiskinan. Menurut BPS (2000: 563- 564) bahwa tahun 1996 jumlah penduduk miskin adalah 22,5 juta dan pada saat krisis tahun1999 jumlahnya meningkat menjadi 48,4 juta orang dimana sekitar 67,6 persen tinggal di daerah pedesaan. juta orang. Tahun 2006-2010, jumlah penduduk miskin di Indonesia tetap besar yaitu di atas 30 juta orang.
Khan (1994:20-22) menjelaskan bahwa untuk memerangi kemiskinan memerlukan beberapa strategi sebagai berikut: (a) Strategi memerangi kemiskinan harus difokuskan kepada sumberdaya manusia melalui pengembangan productive capacity melalui pendidikan dan pelatihan. Manusia harus diperlakukan sebagai aset yang paling berharga dari suatu bangsa dan bukan diperlakukan sebagai liability atau beban suatu masyarakat, (b) Sumberdaya manusia itu harus diorganisasikan dalam bentuk koperasi lokal dalam menangani masalah mereka, (c) Sumber dana harus disediakan melalui bank koperasi berdasarkan bagi
hasil (profit- loss sharing), (d) Sumberdaya tersebut harus diberikan akses kepada sumberdaya fisik dan organisasi publik serta mendorong mereka membentuk organisasi secara lokal, (e) Islam menekankan pentingnya pemerintahan yang bersih dan jujur agar dapat mengatur aset perorangan dan aset publik, (f) Strategi Islam dalam melakukan pembangunan harus fokus kepada investasi yang dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, udara bersih, telekomunikasi dan transportasi, (g) Pembangunan pedesaan dan perkotaan menurut konsep Islam harus seimbang dalam penyediaan kebutuhan dasar manusia. Kriteria investasi berdasarkan Cost- Benefit Analysis seperti yang dikemukakan investasi konvensional tidak cocok dalam mengembangkan sumbrdaya manusia dimanapun mereka berada, (h) Ekonomi Islam menganjurkan pengembangan teknologi yang terencana. Masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena pengembangan teknologi tersebut perlu dididik dan dilatih kembali. Dana untuk keperluan pendidikan dan rehabilitasi tersebut dapat diambilkan dari pengusaha-pengusaha kaya, dan (i) Di atas semuanya itu, dalam sistem Islam diperuntukkan bagi jaminan sosial pada tingkat lokal. Zakat yang terkumpul diberikan kepada mereka-mereka yang kurang mampu, sehingga mereka dapat berkembang. Pengumpulan dan pendistribusian zakat akan lebih efektif dilakukan secara lokal dari pada melalui birokrasi pusat. Ternyata zakat ini belum berperan secara signifikan dalam meeningkatkan perekonomian masyarakat, karena lemahnya manajemen zakat di Indonsia. Belum tersedianya data mengenai zakat menunjukkan bahwa zakat masih dikelola secara tradisional, sehingga belum berpengaruh kepada perekonomian secara nasional.[1]
PEMBAHASAN

A. Pandangan islam
Salah satu yang membedakan system ekonomi islam dan system ekonoi lainya adalah penggunaan parameter falah (kesejahteraan yang hakiki). Namun saat ini dinegara-negara berkembang kesejahteraanitu diwujudkan pada penigkatan GNP yang tinggi, yang aoabia dibagi dengan jumlah penduduk akan menghasilkan capitl Income yang tinggi. Jika hanya itu ukuranya maka kapitalis modern akan memperoleh angka maksimal. Akan tetapi pendapatan perkapita yang tinggi bukan satu-satunya komponen okok yang menyusun kesejahteraan.[2] Penelitian jurnal diatas menunjukan “bahwa  Penduduk Indonesia kelihatannya belum dapat lepas dari kemiskinan. Menurut BPS (2000: 563- 564) bahwa tahun 1996 jumlah penduduk miskin adalah 22,5 juta dan pada saat krisis tahun1999 jumlahnya meningkat menjadi 48,4 juta orang dimana sekitar 67,6 persen tinggal di daerah pedesaan. juta orang. Tahun 2006-2010, jumlah penduduk miskin di Indonesia tetap besar yaitu di atas 30 juta orang.”.[3] Ini belum menunjukan adanya kesejahteraan meskipun ditahun 2010 indonesia memiliki pendapatan perkapita tinggi akan tetapi masih banyak terjadi ketimpangan ekonomi.
Konsep ekonomi kapitalis yang hanya mengukur kesejahteraan berdasarkan GNP jelas akan mengabaikan aspek rohani umat manusia, karena pola dan pembangunan ekonomi diarahkan semata-mata untuk meningkatkan pendapatan perkapita. Ini akan mengarahkan manusia pada konsumsi fisikyang hedonis sehingga menghasilkan produk-produk yang dilempar kepasaran tanpa memperhatikan dampak negatifnya bagi aspek kehidupan lain. Sering kali barang-barang  yang sebenarnya tidk perlu diproduksi berdasarkan kegunaan  dan tingkat urgensinya, namun karena alasan-alasan ekonomi dan bisnis, sehingga barang-barang tersebut dipasok kepasaran.[4] Dari jurnal diatas telah dicontohkan selain sebagian masyarakat mengkonsumsi beras pendapatan mereka juga dihabiskan Rokok yang bukan kebutuhan kalori atau protein juga membutuhkan biaya yang relatif besar yaitu sekitar 30 % dari pengeluaran untuk beras. Kegiatan merokok ini jelas melanggar prinsip dan etika.[5] Dari hal tersebut sudah dapat diduga, terjadilah misalokasi sumber daya alam yang cenderung melanggegkanketidakadilan dan menurunkan kesejahteraan masyarakat yang sangat mencolok.
Kita melihat Jumlah Penduduk Miskin diindonesia Sampai saat ini jumlahnya masih cukup tinggi.  Banyak diantara mereka yang kekurangan makan, kelaparan dan bahkan kematian. Sementara disisi laian kita melihat banyak keluarga kaya yang membelanjakan harta berjuta-juta karena mencari kenikmatan dan kenikmatan fisik.
Maka dari itu, selain harus memasukan unsure falah dalam menganalisis kesejahteraan, perhitungan pendapatan nasional juga harus mampu mengenali bagaimana instumen-instrumen waqaf, zakat, dan sedekah dalam meningkatkan kesejahteraan umat. Ada empat hal yang semestinya bisa diukur  dengan pendekatan pendapatan nasional berdasarkan ekonomi islam, sehingga tingkat kesejahteraan bisa dilihat secara lebih jernih dan tidak bias. Keempat hal tersebut diantaranya,
1.      Pendapatan nasional harus bisa mengukur penyebaran pendapatan individu rumah tangga
GNP tidak mampu mendeteksi kegiatan produksi kegiatan produksi yang tidak ditransaksikan dipasar. Itu artinya kegiatan produktif kelurga yang langsung dikonsumsi dan tidak memasuki kepasar tidak tercatat dalam GNP. Padahal kenyatan ini sangat mempengaruhi kesejahteraan individu. Sesungguhnya angka ini bisa didapat melalui survey nasional yang menyeluruh. Pendapatan perkapita yang diperoleh melalui survey demikian, bisa diduga, akan menghasilkan angka yang lebih besar ketimbang GNP perkapita.[6]
2.      Pendapatan nasional Harus dapat mengukur Kesejahteraan Eknomi Islam ……………………..    [7]

B.  Sumb


Daftar Pustaka
Edwin Nasution, Mustafa, Pengenalan Eksklusif  Ekonomi Islam, Jakarta: Kencana Media Group 2010.
Ismail Nawawi, Ekonomi Makro Islam


[1] Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial, Vol . 1, No. 2, September 2011
[2] Edwin Nasution, Mustafa, Pengenalan Eksklusif  Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana Media Group 2010), 195
[3] Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial, Vol . 1, No. 2, September 2011.

[4] Mustafa Edwin Nasution,..196.
[5] Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial, Vol . 1, No. 2, September 2011.
[6] Ismail Nawawi,
[7] Mustafa Edwin Nasution,..210.